Di zaman Rasulullah SAW, seorang pemuda di Yaman menjalani kehidupan yang sangat bersahaja. Orang-orang di sekitarnya bahkan sering memandang pemuda bernama Uwais Al-Qarni ini dengan sebelah mata. Ia bukan seorang panglima perang yang gagah berani, bukan pula saudagar kaya raya yang dermawan. Ia hanyalah seorang pemuda miskin dengan pakaian usang yang mengidap penyakit sopak (belang-belang) di tubuhnya. Namun, di balik kesederhanaan fisik dan status sosialnya, Kisah Uwais Al Qarni menyimpan rahasia langit yang begitu agung. Sejarah mencatat namanya sebagai teladan abadi tentang cinta, ketulusan, dan bakti luar biasa kepada seorang ibu.
Mengenal Sosok Pemuda Berbakti dalam Kisah Uwais Al Qarni
Uwais Al-Qarni tinggal di wilayah Qaran, Yaman. Ia tumbuh sebagai seorang anak yatim dan hanya hidup berdua bersama ibunya yang sudah tua renta, lumpuh, serta buta. Untuk menyambung hidup, Uwais bekerja memelihara domba dan unta milik orang lain. Ia menerima upah yang sangat sedikit, namun ia selalu mencukupkan uang itu untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari bersama sang ibu. Jika memiliki kelebihan rezeki, Uwais segera membagikan uang tersebut kepada tetangganya yang kelaparan.
Meskipun hidup dalam garis kemiskinan yang ekstrem, Uwais mengarungi hari-harinya dengan khusyuk beribadah. Hatinya senantiasa terpaut pada Allah SWT dan memendam rindu yang mendalam kepada Rasulullah SAW. Sayangnya, keterbatasan biaya dan tanggung jawab penuh merawat ibunya yang lumpuh menghalangi langkah Uwais untuk pergi ke Madinah. Ia tidak memiliki kesempatan untuk menemui Baginda Nabi secara langsung. Kondisi inilah yang membuat para ulama memasukkan Uwais ke dalam golongan Tabi’in (generasi setelah Sahabat), bukan sebagai Sahabat Nabi.
Kerinduan Mendalam dan Ujian Keikhlasan
Semenjak memeluk Islam, kerinduan Uwais untuk memandang wajah Rasulullah SAW kian membuncah. Setiap malam, ia memanjatkan doa agar Allah memberikan kesempatan emas untuk bertemu sang kekasih. Di sisi lain, ibunya juga mengetahui kerinduan mendalam sang anak. Suatu hari, sang ibu memberikan izin kepada Uwais untuk pergi ke Madinah. Namun, sang ibu memberikan satu syarat mutlak: Uwais harus segera pulang setelah bertemu Nabi tanpa menunda-nunda waktu, karena tidak ada orang lain yang menjaga ibunya yang lumpuh.
Dengan sukacita yang membubung tinggi, Uwais melakukan perjalanan jauh menembus padang pasir yang panas dari Yaman menuju Madinah. Namun, sesampainya di rumah Rasulullah SAW, ia menghadapi kenyataan pahit. Nabi Muhammad SAW sedang memimpin pasukan di medan perang dan tidak berada di rumah. Di kediaman tersebut, Uwais hanya bertemu dengan Ummul Mukminin, Siti Aisyah RA.
Di sinilah ujian keikhlasan terbesar dalam Kisah Uwais Al Qarni terjadi. Ia harus memilih antara menunggu Rasulullah pulang yang entah kapan, atau menepati janji kepada ibunya untuk segera kembali ke Yaman. Demi menjaga keridaan ibunya, Uwais memilih untuk langsung pulang. Ia hanya menitipkan salam rindunya kepada Aisyah RA untuk Rasulullah, lalu melangkah kembali ke Yaman tanpa sempat bertatap muka dengan manusia yang paling ia cintai.
Menggendong Ibu Berjalan Kaki ke Makkah
Bukti cinta dan bakti dalam Kisah Uwais Al Qarni mencapai puncaknya ketika sang ibu mengutarakan impian terakhirnya, yaitu menunaikan ibadah haji ke Makkah. Bagi keluarga miskin dan lumpuh di Yaman, perjalanan ke Makkah terdengar mustahil. Mereka tidak memiliki unta yang kuat atau bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan ribuan kilometer.
Uwais tidak menyerah pada keadaan yang sulit. Ia sengaja membeli seekor anak lembu, lalu membuat sebuah kandang di atas bukit. Setiap hari, Uwais menggendong anak lembu tersebut naik turun bukit tanpa lelah. Tetangga-tetangganya menganggap Uwais sudah gila karena kelakuan aneh tersebut. Namun, mereka tidak tahu bahwa Uwais sedang melatih otot-otot tubuhnya agar menjadi lebih kuat.
Ketika musim haji tiba, lembu tersebut telah tumbuh besar dan berat, begitu pula otot tubuh Uwais yang menguat drastis. Ternyata, ia melakukan latihan ekstrem itu agar mampu menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman menuju Makkah. Uwais menggendong ibunya di atas punggung, berjalan berminggu-minggu melewati padang pasir yang terik dan berbatu demi mewujudkan impian sang ibu. Di hadapan Ka’bah, Uwais berdoa dengan tulus, “Ya Allah, ampuni semua dosa ibuku.” Ibunya pun bertanya, “Bagaimana dengan dosamu, wahai anakku?” Uwais menjawab, “Jika Allah mengampuni dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha Ibu yang akan membawa aku ke surga bersama Ibu.”
Baca Juga : Cara Mengatasi Perilaku Boros Untuk Ketenangan Hidup
Meneladani Nilai Luhur dari Kisah Uwais Al Qarni
Meskipun Uwais tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW semasa hidupnya, Rasulullah mengetahui kesalehan Uwais melalui wahyu Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah berpesan kepada Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA untuk mencari keberadaan pemuda tersebut. Nabi bahkan menyebutkan bahwa Uwais adalah “Penduduk langit yang menyamar sebagai penduduk bumi” karena baktinya yang luar biasa. Melalui Kisah Uwais Al Qarni, kita belajar bahwa kemuliaan sejati tidak berasal dari harta atau popularitas di dunia, melainkan dari ketulusan hati dan kepatuhan kita kepada orang tua.
Salurkan Bakti dan Kepedulian Anda
Kisah ketulusan Uwais Al-Qarni mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari harta atau popularitas, melainkan dari ketulusan hati dan bakti kita kepada orang tua serta sesama. Hari ini, di sekitar kita, masih banyak lansia dhuafa dan ibu-ibu tangguh yang berjuang sendirian tanpa sandaran, hidup dalam keterbatasan persis seperti kondisi ibunda Uwais dahulu. Mari hidupkan kembali semangat kepedulian Uwais dengan berbagi kebahagiaan bersama mereka. Kamu bisa memberikan dukungan terbaikmu bersama Yayasan Rindang Hijau Madani di Bondowoso melalui :
💳 Rekening Kami :
BRI: 001301011165535
BSI: 7241674813
Bank Jatim: 0312615312
a.n. Yayasan Rindang Hijau Madani di Bondowoso
🌐 Klik link berikut untuk donasi online:
🔗 https://pantiyarhima.org/donasi-panti-asuhan-bondowoso/







